Bincang Santai bersama Syarifah Fatima Al-Musawa & Syarifah Hafshah Al-Musawa

 *MT.DARUZZAHRA*


πŸŽ₯: Bincang Santai 

πŸ“†: 19 Juni 2023 (1 Dzulhijjah 1444H)

πŸ“š: Berkorban Tanpa Sesal


Pemateri:

πŸ§•πŸ» Syarifah Fatimah Al-Musawa

πŸ§•πŸ» Syarifah Hafshah Al-Musawa


-----

1. Apakah Makna Berkorban Ala Syarifah Fatima & Syarifah Hafshah Al-Musawa?

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa:*

Semakin besar sesuatu yang ingin kita capai maka semakin besar pula pengorbanan yang kita berikan. Jangan berpikir bahwa kamu akan mendapatkan sesuatu yang besar dengan pengorbanan yang kecil. Seperti halnya berhijrah, tidak mungkin kita tidak diuji dengan sesuatu yang besar dalam hidup, sebab apa? Sebab jaminannya surga Allah. Tidak mungkin ingin mendapatkan surga dengan cara instan seperti memasak sebuah mie, karena memasak mie pun butuh proses untuk membuatnya. Maka hakikatnya tidak akan ada yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma dan oleh karenanya, jika kita ingin sesuatu yang besar maka mulailah berkorban. 


πŸ“‘ *Menurut Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Pengorbanan itu keadaan yang tidak bisa dipisahkan dari manusia. Semua manusia itu berkorban apapun itu. Berkorban itu juga karena cinta, maka cinta adalah pengorbanan. Seperti yang dikatakan oleh guru ane (wan acoh) bahwa “cinta itu pengorbanan ”, seperti halnya manusia yang tak lepas dari rasa cinta. Ibarat saja dengan makan Indomie, kita menyukainya dan akan sering memakannya, maka yang dikorbankan adalah kesehatan diri sendiri. Jadi segala sesuatu ada harga nya, dan kalau kita menginginkan sesuatu maka harus ada yang dikorbankan. Dan ketika kita cinta, berapapun harganya akan terus dicari dan akan terus dikejar.


2. Apa Sajakah Yang Layak Untuk Di Perjuangkan?

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Segala sesuatu itu ada harganya, dan kalau kita cinta sama sesuatu kita ga akan peduli apa yang kita korbankan. Jika kita mencintai hal yang salah pasti akan menyesal. Ketika ingin berkorban lihat dulu apa yang sekiranya layak untuk dikorbankan. Contohnya perempuan cinta sama laki-laki akhirnya dia pengen nikah, tapi dia ga dapat restu dari orangtuanya & akhirnya kawin lari. Lalu ternyata si suami ini jahat dan suka nyakitin si perempuan ini (istri nya), nah pasti si perempuan ini memiliki penyesalan akibat keputusan yang dia ambil (pengorbanan nya jadi sia-sia). Maka dari itu, sesuatu yang mau dikorbankan harus dilihat dulu, apakah sepadan dgn yang kita korbankan atau tidak.


πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa:*

Sebelum kamu berkorban untuk mendapatkan sesuatu apapun itu, maka pastikan dulu apa yang akan didapat sepadan dengan perjuanganmu (istilah sekarang tuh worth it). Kl kamu mau surga, mau Allah, mau Rasulullah ο·Ί maka semua harus sepadan pengorbanan nya. Penyesalan adalah perasaan paling menyakitkan, jangan sampai menyesal karna banyak membuang-buang waktu dimasa lalu, karena penyesalan itu rasanya sangat-sangat tidak enak.


3. Bagaimana Cara Memperjuangkan Suatu Hal Agar Tak Berujung Kecewa?

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa:*

Perempuan itu memiliki satu kelebihan khusus, dimana ia bisa memprediksi rasa kecewa lebih awal. Belum sakit tapi dah sakit duluan. Belum patah hati tapi dah patah hati duluan. Lalu bagaimana agar tak kecewa? Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. 


Kalau kita melakukan sesuatu karena merasa tidak enak atau ada orang lain yang membuat kita melakukan sesuatu/memberi sesuatu kepada orang lain karena rasa tidak enak/malu untuk menolak, maka itu dosa. Jadi jangan ikuti rasa tidak enak karena perasaan kamu, kalau kamu mikirnya ngikutin perasaan kamu maka akan jadi seseorang yang lebih baik itu salah, padahal nyatanya ga sama sekali. Jadi buang jauh-jauh rasa tidak enak itu pada orang lain daripada kamu menambah-nambah dosa. 


πŸ“‘ *Menurut Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Jika kita mencintai yang benar maka kita tidak akan menyesal. Jadi cintailah sesuatu yang benar/mubah, misal Allah mengizinkan kita mencintai-Nya, Rasulullah, Suami (bagi yang punya), dll. Tetapi jangan juga berlebihan mencintai manusia, agar apa? Agar tidak kecewa. Dimana manusia ini banyak memiliki ekspektasi tinggi, dan ketika ekspektasi itu tidak sesuai dengan realita maka akan kecewa. Oleh karena itu jangan terlalu tinggi dalam berekspektasi. Nah yang penting adalah kita mencintai sesuatu yang shahih, karena itu ga akan bikin nyesel. Kaya cinta nya kita ke Allah dan Rasulullah, maka kita tidak akan menyesal.


4. Bagaimana Tips Menghilangkan Rasa Kecewa Ketika Pengorbanan Seakan Nampak Sia-sia?

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Ada 4 Skala, yaitu:

 *1. Skala Syariat* , kalau kita cinta sama sesuatu maka pastikan cinta nya itu yang sudah Allah izinkan. Seperti misal, cinta nya sudah halal menurut syariat atau belum. Jika seandainya mencintai sudah sesuai syariat tapi tetap kecewa, maka cukup bersabar dan serahkan pada Allah (Hasbunallah Wa Nikmal Wakiil)

 *2. Skala Menurut Prioritas* , persempit sesuatu yang hendak kita korbankan, kita tentukan dulu sekiranya mana yang benar-benar baik untuk kita prioritaskan. Jika pun hasilnya tetap tidak sesuai dengan apa yang sudah kita korbankan, maka lari pada tahap skala ketiga, yaitu Kesempatan kedua. 

 *3. Skala Kesempatan kedua* , belajar dari masa lalu dan mengulangi lagi dgn versi terbaik.

 *4. Skala track of* , analisis dulu mana kesempatan yang kalau kita ambil bakal ngasih banyak keuntungan lebih besar dan lebih banyak manfaat untuk diri kita.


πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa:*

Soal nasi sudah terlanjur menjadi bubur misal, lalu bagaimana? Yaudah lanjutkan aja dan nikmati serta jadikan itu sebagai pelajaran. Menurut psikolog, manusia akan terus di uji sampai benar-benar lulus. Sama hal nya dengan ujian di sekolah, jika kamu remedial maka kamu akan disuruh untuk mengulang nya sampai lulus. 


5. Apakah Tanda-tanda Perasaan Seseorang Yang Tulus Ketika Berkorban Hanya Karena Allah dan Rasulullah ο·Ί (perasaan cinta)?

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa & Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Zaman sekarang pengorbanan perasaan untuk Allah dan Rasulullah itu sangat sulit, sangat sedikit orang yang mencari cinta Allah dan Rasulullah. Manusia hanya ingin mencari keuntungan tanpa pengorbanan. Kita tidak tau apa orang itu tulus sama kita atau tidak, karena yang benar-benar tulus sama kita tuh hanya Allah dan Rasulullah. 


6. Bagaimana Tips Mengutamakan Waktu Untuk Perkara Akhirat di Sela Kehidupan Dunia Yang Fana?

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Ingat tujuan awal, yaitu apa? Mencari ridho Allah, jika hanya ingin mencari ridho manusia tak akan pernah didapatkan. Lihat bagaimana Nabi ο·Ί, sosok yang begitu sempurna masih kena caci maki sedemikian beratnya. Lalu bagaimana mencari ridhoNya? Dengan cara dimulai dari hal terdekat, seperti membantu orangtua dalam hal-hal terkecil, tidak perlu bermajelis ta'lim yang jauh kesana kesini seharian jika setelahnya kamu masih berani dgn orangtua. Tentukan prioritas, jangan seperti seseorang yang sibuk kesana kemari tetapi lupa tugas nya sebagai Ibu, Istri, ataupun anak. 


πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa:*

Jika kita seorang muslim, kita harus percaya bahwa setelah wafat nanti masih ada kehidupan selanjutnya. Perlu diingat lagi bahwa sejatinya kita akan kembali ke akhirat, maka untuk kembali kesana kita perlu bekal. Jangan sampai di Dunia sudah susah/miskin, eh diakhirat susah/miskin juga. Carilah bekal untuk kebahagiaanmu di akhirat nanti, yang mana untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat itu sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal simple. Seperti tersenyum kepada sesama misal.


7. Apakah Mencintai Rasulullah Membutuhkan Pengorbanan?

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa:*

Sebenernya mencintai Rasulullah itu sejatinya bisa jadi bukan benar-benar pengorbanan, kamu mungkin merelakan sesuatu untuk mencintai Rasulullah, namun kerelaan tersebut akan dibalas kontan oleh Rasulullah bahkan lebih besar dari apa yang kita berikan untuk beliau. 


Sesungguhnya hal yang kita korbankan untuk Rasulullah, kelak akan menjadi tanggung jawabnya Rasulullah. Begitupun dengan kita tidak memilih siapapun di dunia ini, meski kita tak memilih siapapun tetapi apapun itu akan akan menjadi tanggung jawabnya Rasulullah. Seperti kita berada dititik seperti ini saja adalah sesuatu yang sangat baik, meskipun kita merasa belum pantas untuk berada disini. Apakah ada hal-hal khusus yang harus dilakukan sebagai tanda cinta pada Rasulullah?


πŸ“‘ *Menurut Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Tentu saja butuh, ibarat kita bermain game. Ketika kita main game juga butuh pengorbanan, begitupun mencintai Rasulullah. Yang mana salah satu pengorbanan untuk Rasulullah adalah menahan hawa nafsu. Jika kita ingin berkumpul dengan Rasulullah tetapi tidak menahan hawa nafsu apakah itu disebut pengorbanan? Tidak, maka dari itu tahanlah hawa nafsu kita.


8. Daily Activity Bersama Rasulullah Versi Syarifah Fatima Al-Musawa dan Syarifah Hafshah Al-Musawa

πŸ“‘ *Menurut Syarifah Fatima Al-Musawa:* 

Saya sedang mengusahakan untuk senantiasa bikin orang lain senang. menjadi orang lain senang itu sesuatu yang bikin saya usahain mungkin. awalnya kelihatannya lebih mirip kayak people pleasure, cuman seiring berjalannya waktu saya menjadi senang ketika orang lain senang. Jadi itu bukan sesuatu yang jadi beban lagi buat saya, karena kalau people pleasure itu kan nyenengin orang lain tapi diri sendiri mampus, Saya nggak kayak gitu. saya pernah dengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bilang "seseorang yang membahagiakan orang lain, kebahagiaan orang yang dia bahagiain itu akan menjelma menjadi cahaya, dan cahaya itu akan menjadi malaikat yang nemenin dia di kubur sampai hari kiamat." dan saya tahu banget saya tahu diri banget amalan saya enggak banyak, dosa saya super banyak. jadi menurut saya memiliki sesuatu yang menemani saya di kubur itu sesuatu yang menjadi impian saya. saya enggak mau ketakutan sendirian. 


Selain itu, tentu aja yang wajib dan saya juga berusaha melakukan sunnah-sunnah yang lain. khususnya sekarang saya lagi mencoba untuk selalu bawa siwak. Dan siwak sekali beli jangan satu, langsung tujuh. Satu taruh di tas, satu taruh di tempat solat, satu taruh di kamar mandi, satu terus di bantal, sisanya untuk stok. karena Emang setan seenggak suka itu sama Siwak. 


πŸ“‘ *Menurut Syarifah Hafshah Al-Musawa:*

Jaga perasaan orang itu ibadah yang paling Agung. Terkadang yang suka nyakitin kita itu adalah orang-orang terdekat kita sendiri. Enggak semua orang bisa jaga perasaan manusia. Jadi itulah kenapa menjaga perasaan orang itu ibadah yang paling Agung. Kembali lagi ke prioritas kita. Kalau punya suami, prioritasnya kita adalah suami. Kalau belum bersuami, prioritasnya adalah orang tua. Jangan lupa guru kita juga prioritas. Dan sekarang prioritasnya ana adalah orang tua dan guru. Sebisa mungkin kita jaga hubungan kita sama dua orang ini. Jadi tentuin dulu prioritasnya kita. Kalau kita punya prioritas, kita tahu apa yang harus kita lakuin. Kalau kita nggak bisa ngebahagiain orang lain jangan nyakitin orang lain, jadi manusia nggak ada gunanya kalau gitu. Kalau udah nentuin prioritas itu gampang.


Kurang lebih nya mohon maaf apabila ada salah kata dalam penulisan, Wallahu 'alam bishawab.


Halal share dan di mohon untuk tidak menghilangkan sumber catatan, BaraakAllah Fiikum.


Salam cinta πŸ’™

 π“œπ“½. 𝓓π“ͺ𝓻𝓾𝔃𝓩π“ͺ𝓱𝓻π“ͺ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bincang Santai dan Halal bi Halal bersama Ustadzah Nabila Ja'far Al-Haddad

Bincang Santai bersama Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf Bahlega

Tanya Jawab Bincang Santai bersama Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf Bahlega