Bincang Santai bersama Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf Bahlega
MT.DaruzZahra
🎥: Kajian online Special Eid Adha 1444H
📆: 30 Juni 2023 (11 Dzulhijjah 1444H)
👳🏻♂️: Al-Habib Umar bin Abdurrahman Assegaf Bahlega
-----
Keikhlasan dan Pengorbanan Sebagai Tanda Cinta
Definisi cinta menurut Habib:
Yang jelas dari dulu cinta itu tak selamanya hanya pada satu makna, karena cinta itu beribu makna. Nah cinta itu perlu keikhlasan dan pengorbanan, apabila tak ada keikhlasan dan pengorbanan didalamnya maka itu bukan cinta, melainkan hanya sekedar syahwat/nafsu belaka. Jika benar-benar cinta, maka akan murni dari hati yang bersih sesuai dengan yang Allah ridhoi (sesuai syariat). Cinta itu fitrah, cinta itu bagian dari ibadah, cinta itu harus penuh keikhlasan dan pengorbanan, oleh karenanya sah-sah saja kita mencintai siapapun selagi itu tak melanggar syariat agama. Karena cinta merupakan naluri hati, anugerah (pemberian) dari Allah. Jadi siapa saja yang betul-betul cinta nya ikhlas, cinta nya karena Allah sesuai dengan makna syarat dari cinta tersebut, maka sudah termasuk dalam ibadah. Dan selama cinta itu tak dinodai dgn maksiat serta tak melanggar aturan Allah wa Rasulullah maka boleh-boleh saja.
Masuk pada pembahasan inti, dimana Nabi Ibrahim merupakan bapaknya tauhid dan beliau adalah pusat peradaban daripada umat manusia, bahkan banyak pula kejadian-kejadian yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim merupakan sosok yang kuat dan bulat tekadnya serta imannya (terutama dalam tauhidnya) kepada Allah. Beliau benar-benar totalitas, tidak ada keraguan sedikitpun kepada Allah. Bahkan dikutip dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 260, Allah berfirman: وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِۦمُ رَبِّ أَرِنِى كَيْفَ تُحْىِ ٱلْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِى ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ ٱلطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ ٱجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ٱدْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَٱعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ yang artinya "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Setelah itu Nabi Ibrahim pun semakin kukuh imannya, tetapi walaupun sudah kukuh imannya beliau tetap diperlihatkan sesuatu yang tak kasat mata agar hatinya tetap yakin & tenang, begitu juga dgn Nabi Muhammad ﷺ, pemimpin kita di Dunia wal Akhirat (bahkan pemimpin para Nabi dan Rasul), dan masih banyak lagi para Nabi Dan Rasul yang disebutkan dalam Al-Qur'an bagaimana cara Allah mengokohkan serta menetapkan iman mereka. Terlebih-lebih Rasulullah, dimana Allah tetapkan hatinya serta imannya, sehingga tak ada cinta yg lebih besar daripada cintanya Rasulullah kepada Allah & umatnya. Ulama juga menyebutkan sempurna nya pengenalan cinta Allah terhadap hambanya, seperti yg dijelaskan dalam Al-Qur'an surah AzZariyat ayat 56, Allah berfirman: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ yang artinya "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku". Dan disebutkan para ulama bahwa tak kenal maka tak sayang, oleh karenanya disebutkan oleh ulama fiqh bahwa yang pertama atau yang wajib bagi umat islam adalah wajib mengenal Tuhannya, karena jika tak mengenal maka tidak akan mungkin menyembah, semakin mengenal Allah maka akan semakin cinta.
Selanjutnya mengenai keikhlasan serta pengorbanan, dimana ada salah satu kisah Nabi yang menjadikan keikhlasan dan pengorbanan sebagai tanda cinta adalah Nabi Ibrahim as. Seperti yang kita ketahui, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah sosok yang menjadi barometer kita dalam melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya, yang mana dalam ritual haji dalam Idul Adha itu Nabi Muhammad SAW mengikuti manasik aturan atau syariat yang dibuat oleh Nabi Ibrahim as sebelumnya dan beliau menyempurnakannya. Dalam manakib, Nabi Ibrahim tatkala itu menikah dengan Siti Saroh. Di masa mudanya Nabi Ibrahim sudah berjuang, ada yang meriwayatkan jika di umur 16 tahun Nabi Ibrahim dilemparkan ke api yang besar. Lalu sekitar umur 86 tahun beliau mempunyai anak dari Siti Hajar, yang kemudian sekitar umur kurang dari 90 tahun Nabi Ibrahim punya anak dari Siti Saroh. Perjuangan Nabi Ibrahim as. penuh dengan surat-surat cinta daripada Allah dengan kode keras, bahkan beliau masuk ke dalam kategori Ulul Azmi.
Tatkala Nabi Ibrahim as hijrah ke Mesir, sesampainya di sana didapati oleh raja yang dzalim, di mana raja ini setiap mendengar ada perempuan cantik maka dia akan merampasnya dan membunuh suaminya. maka sesampainya di sana, terdengarlah tentang Siti Saroh kepada sang raja dzolim itu, maka Nabi Ibrahim berpesan kepada Siti Sarah bahwa beliau menganggap Siti Saroh sebagai saudaranya. beliau memasrahkan Siti Saroh kepada Allah dan percaya jika Allah akan menjaganya. Saat itu, tidak ada yang beriman di Mesir selain Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. kemudian setelah itu dipanggil oleh raja, ditanyalah "siapa ini?" dijawab oleh Nabi Ibrahim "saudaraku". maka kemudian di bawalah Siti Sarah. Nabi Ibrahim melaksanakan sholat dan Allah menyingkapkan hijab kepada saat itu sehingga Nabi Ibrahim bisa melihat Siti Saroh, Allah menjaga Siti Sarah sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena tatkala sang raja berniat jahat dan nafsunya memuncak namun saat hendak menyentuh Siti Saroh, tangannya tiba-tiba seperti lumpuh. maka sang raja ketakutan dan mengetahui jika Siti Saroh ini seorang perempuan yang luar biasa. kemudian sang raja meminta kepada Siti Sarah untuk tolong didoakan agar Tuhan Siti Saroh memulihkan tangannya lagi dan dia tidak akan melukai Siti Saroh. maka Siti Saroh berdoa dan Allah kabulkan. Terus berulang kejadian itu sebanyak tiga kali, hingga pada akhirnya sang raja mengembalikan Siti Saroh kepada Nabi Ibrahim lagi dan diberi pula Siti Hajar sebagai hadiah. Siti Sarah mengatakan "engkau memasrahkanku kepada Allah, dan Allah menjagaku, dan aku pulang kembali dengan membawa hadiah dari raja yaitu Siti Hajar, mungkin engkau bisa mendapatkan anak darinya" maka menikahlah Siti hajar bersama Nabi Ibrahim as. Inilah awal mula tercetusnya poligami. Setelah itu Siti Hajar hamil dan disusul oleh Siti Saroh yang hamil. Dan lahirlah anak dari Siti Hajar yakni Ismail as. Yang berbarengan dengan anak dari Siti Saroh yaitu ishaq as. Yang namanya poligami, pertamanya mungkin tidak ada rasa cemburu, tapi kemudian pasti adam dan poligami itu menjadi sunnatullah.
Singkat cerita, Nabi Ismail as menang dan dipangku dan Nabi Ishaq as nomor dua berada di sebelahnya, maka kemudian hati Siti Sarah bergejolak, kemudian turunlah wahyu kalau Siti Hajar ini dijauhkan tempat tinggalnya dari Siti Sarah agar tidak ada gejolak di hati. Di tanah yang tandus, tak ada tumbuhan, dan tak lain di Makkah Al-Mukarramah ditaruh nya batu Nabi Ismail yang masih kecil. Kemudian Sayyidah Hajar yang akan ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ditanya "Apakah karena Allah atau diperintahkan oleh Allah (diperintahkan nya hingga 3×)". Kemudian Nabi Ibrahim tak menjawab-jawab, hingga pada akhirnya dijawab oleh Nabi Ibrahim "yaa, ini perintah Allah dan Allah memerintahku". Kemudian Sayyidah Hajar menjawab lagi "baik, maka Allah tidak akan meninggalkan kami". Singkat cerita Sayyidah Sarah mulai tenang, dan kebingungan di suatu lembah yang tandus, tak ada manusia satu pun. Bayangkan bagaimana luar biasanya Nabi Ibrahim dan keluarganya. Bagaimana keikhlasan dan pengorbanannya. Nah kalau kelas kita nih pasti sudah tak mampu, karena ini kelas-kelas nya para Nabi & Rasul. Namun, meskipun memiliki keistimewaan, para Nabi & Rasul tetap memiliki ketakutan, Nabi & Rasul sama dengan kita (mempunyai perasaan yang sensitif), bedanya mereka memiliki amanat yang istimewa dan pertolongan yang istimewa juga dari Allah. Tetapi itu alami, bukan dengan ilmu sihir atau yang lainnya, melainkan itu adalah mukjizat yang datang dari Allah. Bukan karena mereka yang mempunyai kekuatan itu, tapi itu adalah bantuan dari Allah yang diberikan, itupun tatkala keadaan darurat. Lalu singkat cerita, Sayyidah Hajar kehabisan bekal, ia pun mulai mencari bukit yang tak terlalu tinggi untuk mencari pertolongan. Hingga pada akhirnya ada di bukit sofa, dimana disana mungkin terdapat air. Kemudian dilihat-lihat lagi gak ada dia dengar Nabi Ismail menangis, akhirnya ia kembali lagi dan cari bukit lagi hingga bertemulah dengan bukit Marwah. Disana dia mendengar suara-suara binatang-binatang buas, ada juga seperti suara-suara setan/jin, kemudian beliau berjumpa dengan malaikat Jibril yang sangat panjang lebar yang disebutkan oleh para ulama ahli sejarah yang banyak juga meriwayatkan cerita tersebut (diambil dari tafsir-tafsir dalam Al-Qur'an). Maka kemudian dari tangan-tangannya yang mana beliau duduk, maka kemudian beliau meminta pertolongan pada Allah, dan pertolongan tersebut datang berangsur-angsur. Ajaibnya, Nabi Ibrahim sebagai kepala rumah tangga, sebagai pemimpin, sebagai Nabi, sebagai Rasul itu beliau tak gentar meninggalkan istri serta anaknya yang masih kecil itu. Jantungnya berdegup kencang, tapi beliau yakin dengan Allah. Keyakinan nya mutlak, ibarat tak memikirkan lagi kalau sudah diperintah ya sudah (tanpa ada pertimbangan lainnya). Maka di dalam do'a nya "ya Allah ku taruh ini daripada anak keturunanku di suatu lembah yang tandus, yang tak ada tanaman dan manusia yang berlalu lalang". Dan disitu (Makkah Al-Mukarramah) belum jadi apa-apa saat itu. "Di rumah yang kau tunjuk, yang kau perintah untuk membangun dimana rumahnya nanti akan dijadikan untuk tempat menegakkan sholat, dijadikan nya hati yang malu sebagai manusia yang condong kepada setiap rezeki buah-buahan. agar apa? Agar selalu bersyukur. Padahal diawal mula tadi, ia menyebutkan di lembah tandus. Namun didalam do'a nya Nabi meminta berilah rezeki berupa buah-buahan ditanah tandus. Nah itu kan bertentangan dengan logika, maka pasrah saja pada Allah. Dan Nabi Ibrahim tau akan rumus pasrah kepada Allah, kepercayaan nya pada Allah dan tidak ada yang bisa menggoyahkan keimanan serta keyakinan Nabi Ibrahim. Singkat cerita, setelah berangsur-angsur hal tersebut dialami daripada ujian keluarga Nabi Ibrahim serta keluarganya khususnya Sayyidah Hajar dan Nabi Ismail di lembah tandus tersebut, kemudian membangunnya lari dari Sofa ke Marwah dalam ibadah haji ataupun umroh, dan itulah pertama kali nya dilakukan oleh seorang perempuan bernama Sayyidah Hajar yang berupaya untuk bertahan hidup dengan ikhtiar dan yakin pada Allah, bahwa Allah akan membantu sembari tak melupakan ikhtiar dan berkeliling sampai 7×, dimana disini banyak juga riwayat mengenai hal tersebut yang jelas tak malas, tak juga berpangku dengan tangan, dan tak juga bodoh melainkan realistis dengan perjuangan ikhtiar nya serta keikhlasan dan pengorbanannya.
Singkatnya dimana pada akhirnya Nabi Ibrahim mendapatkan perintah yang dahsyat, yang besar, yang hebat luar biasa, dimana ia diperintahkan menyembelihnya putranya. Mendengar hal tersebut satu Nabi Ishaq dan Sayyidah Sarah meninggalkan nya karena takut & gelisah. Dan ini menjadi sunnatullah realita pada umumnya, tatkala manusia tersebut mendapatkan ujian yang besar dari Allah. Terlebih ujian tersebut mengorbankan menyembelih anak putra nya, bukan hal-hal yang mudah. Kalau dalam syair disebutkan, siapa yang tak mampu menyembelih hewan qurban di mina bagi pelaksana haji, maka hendaklah ia mengorbankan hawa nafsu nya agar mendapatkan ridho Allah ta'ala. Maka dari itu kita pun diwajibkan, khususnya bagi yang mampu untuk sangat-sangat dianjurkan berqurban, supaya mengorbankan sedikit harta l. Bedanya kita mengorbankan kambing, bukan anak seperti Nabi Ibrahim (Karena Allah menyuruh nya sebagai ujian). Kita juga diuji oleh Allah untuk mengorbankan sedikit harta kita dengan berbagi hewan qurban, yang nantinya daging hewan qurban akan dibagikan bagi yang membutuhkan. Oleh karena itu dari sini seharusnya kita tau hikmah apa yang bisa kita ambil, bagaimana ketulusan, keikhlasan, keyakinan, dan keimanan yang mutlak dari keluarga Nabi Ibrahim sangat kuat kepada Allah. Seperti bagaimana Nabi Ibrahim memasrahkan Sayyidah Sarah kepada Allah, kemudian diberikan nya hadiah berupa Sayyidah Hajar yang kemudian ketika Sayyidah Sarah memberikan (melahirkan anak) dan mendapati ujian untuk ditinggalkan disuatu lembah yang gersang, namun kemudian malah menjadi peristiwa besar. Nah jadi setiap manusia itu adalah sejarah, oleh karenanya jadilah sejarah keluarga Nabi Ibrahim yang luar biasa dalam bulan haji ini. Tak pernah berubah pula sejarah tersebut sampai pada Nabi Muhammad ﷺ, melainkan Nabi ﷺ menyempurnakan sejarah kehidupan yang penuh makna pengorbanan, perjuangan, keikhlasan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim sejak kecil hingga dewasanya. Dari sini kita tau, ini adalah syarat mutlak cinta. Tanpa cinta tak mungkin ada keikhlasan serta pengorbanan. Bagaimana pemimpin dunia akhirat yaitu Nabi ﷺ yang diciptakan oleh Allah menjadi kekasih Allah yang paling tinggi kedudukannya, sampai-sampai surga pun diciptakan untuk Nabi ﷺ, namun tak jarang pula Rasulullah memikirkan umat nya. Oleh karena itu cintai daripada keluarga Nabi Muhammad, hargai, hormati para Dzuriyyah nya. Disebutkan dalam suatu riwayat hadits yang kemudian disimpulkan oleh para ulama Imam Haddad di dalam syairnya, ibarat kata keluarga nya nabi itu adalah perahu nya Nabi Nuh yang kita akan selamat jika berada didalamnya, ujian ini secara umum juga tak akan berhenti sampai akhir zaman. Semakin dekat dengan akhir zaman maka semakin besar pula ujiannya, dan tak ada perahu yang menyamakan kita seperti keluarga Nabi yang istiqamah. Dimana Nabi ﷺ juga diibaratkan sebagai pengaman, baik diatas muka bumi yang seperti bintang-bintang di langit yang membuat orang-orang menjadi terang benderang (tak perlu kebingungan mencari lentera dimalam hari). Maka dari itu, cinta butuh keikhlasan dan pengorbanan. Dalam hal apapun kita harus cinta kepada Allah, maka kita pun harus merelakan dan mengikhlaskan setiap apa yang ada. Ikhlas ini adalah salah satu syaratnya, kalau gak ikhlas, gak sah, gak bisa ikut Rasul. Kecuali kita ya cinta, dan gak bisa cinta kepada keluarga Nabi. Jadi cinta-cinta yang wajib hanya pada Allah, Nabi & Rasul, serta para ulama dan orangtua.
Kalau kita menghitung segala kebaikan Allah maka itu tidak akan pernah ada habisnya. Hebat nya lagi, Allah itu ga pernah kasih kita kejahatan/keburukan. Ketika kita melakukan keburukan, Allah juga ga pernah langsung memberi kita hukuman apalagi azab. Allah selalu tunda-tunda untuk memberitahu azab pada hambanya, karna Allah yakin pasti hamba nya akan bertaubat nantinya. Itu semua juga berkat siapa? ya berkat Rasulullah ﷺ. Kita nih kalo berdo'a suka pengen nya langsung Allah qobul, minta nya kontan, padahal kita sering ngelakuin keburukan, dan Allah pun masih sayang kita (tidak memberikan azab langsung). Oleh karena itu, kita semua ni perlu banyak-banyak husnudzon kepada Allah untuk saat ini, esok, dan seterusnya. Karena sekali lagi dikatakan bahwa cinta ini adalah syarat akan keikhlasan dan pengorbanan, kita perlu melihat bagaimana para sahabat Nabi Muhammad ﷺ yang luar biasa. Seperti pada saat itu dimana Nabi menjumpai tamu yang dimana beliau lapar sudah beberapa hari, karna pada saat itu adalah masa krisis (dimana kala itu memang serba gada), kemudian Nabi ﷺ mencari apa yang ada di rumahnya dan meminta para istri untuk memberikan jamuan pada tamu-tamunya. Namun kala itu pula, tidak ada yang bisa menjamu, karna stok makanan hanya untuk anak-anak nya (itupun hanya sedikit). Setelah itu mereka (istri) pada meniduri anak-anak mereka, dan akhirnya jamuan apa adanya pun disuguhkan pada tamu-tamu rasul (salah satunya disuguhkan kepada Saidah falah) serta mempersilahkan nya untuk makan bersama. Namun ternyata beliau hanya berpura-pura menggunakan sendok dan piring seakan-akan sudah makan, padahatidaj. Maka sesampainya dihadapan Nabi ﷺ berlangsung memulai ucapannya sebelum mereka menyampaikan yang ingin disampaikan tentang suatu kabar. Namun ternyata jawaban Nabi ﷺ membuat takjub, karena istrinya telah memeliharakan tamunya padahal dalam keadaan lapar sekalipun ia sendiri juga sedang menahan lapar dengan stok makanan yang sedikit. Dari sini kita tau bahwa semua butuh keikhlasan dan pengorbanan. Itu baru satu contoh, belum lagi contoh keluarga Nabi ﷺ yang salah satunya adalah Sayyidah Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib yang anaknya sakit kemudian bernazar kalau sembuh akan puasa selama 3hri. Dan masih banyak lagi contoh2 cinta yang dimana semua butuh keikhlasan dan pengorbanan. Makanya wajib kita mencintai Allah, Rasulullah, para Dzuriyyah nya, serta orangtua.
Maka dari itu dapat kita ketahui dan juga pahami dari semua inti disini yaitu sunnah daripada kita berkorban dihari raya eid adha. Dimana hari raya eid adha adalah bagaimana Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya (Nabi Ismail). Semua ini ditunjukkan bahwa tidak ada cinta yang betul-betul dalam kehidupan ini melainkan Allah semata. Serta wajib hukumnya kita mencintai Allah, Rasulullah, para Dzuriyyah Rasulullah, serta orangtua kita.
Kurang lebihnya mohon maaf apabila ada salah kata dalam pengetikan/penulisan, Wallahu 'alam bishawab..
Halal share & di mohon untuk tidak menghilangkan sumber catatan (hargai catatan ini), BaraakAllah Fiikum..
Salam cinta 💙
𝓜𝓽. 𝓓𝓪𝓻𝓾𝔃𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪
Komentar
Posting Komentar